By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
UPNEWSUPNEWSUPNEWS
  • BERANDA
  • ADVETORIAL
    • PEMPROV
      • PEMPROV KALTARA
      • DINAS PERTANIAN PEMPROV KALTARA
    • DPR
      • DPRD TARAKAN
      • DPRD NUNUKAN
    • PEMKOT & PEMKAB
      • PEMKOT TARAKAN
      • PEMKAB BULUNGAN
      • PEMKAB NUNUKAN
      • PEMKAB MALINAU
      • PEMKAB TANA TIDUNG
  • TEKNOLOGI
    • KEAMANAN SIBER
    • GADGET
  • HUKRIM
  • PEMERINTAHAN
  • POLITIK
  • OPINI
  • RAGAM
    • PARLEMENTER
    • PENDIDIKAN
    • OLAHRAGA
    • LIPUTAN KHUSUS
    • KULINER
Reading: Kasus DBD di Tarakan Melonjak, Dinkes Sampaikan Ini
Share
Font ResizerAa
Font ResizerAa
UPNEWSUPNEWS
  • KALTARA
  • PEMKOT TARAKAN
  • PEMKAB BULUNGAN
  • PEMKAB MALINAU
  • PEMKAB TANA TIDUNG
Search
  • BERANDA
  • ADVETORIAL
    • PEMPROV
    • DPR
    • PEMKOT & PEMKAB
  • TEKNOLOGI
    • KEAMANAN SIBER
    • GADGET
  • HUKRIM
  • PEMERINTAHAN
  • POLITIK
  • OPINI
  • RAGAM
    • PARLEMENTER
    • PENDIDIKAN
    • OLAHRAGA
    • LIPUTAN KHUSUS
    • KULINER
© 2020 - 2025 - UPNEWS.CO.ID
Beranda » Blog » Kasus DBD di Tarakan Melonjak, Dinkes Sampaikan Ini
KALTARA

Kasus DBD di Tarakan Melonjak, Dinkes Sampaikan Ini

Redaksi
Last updated: 3 Agustus 2022 23:39
Redaksi
4 tahun ago
Share
SHARE

TARAKAN – Kepala Dinas Kesehatan Kota Tarakan dr. Devi Ika Indriarti mengungkap adanya lonjakan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Tarakan. Bahkan peningkatan kasus penyakit yang disebabkan nyamuk jenis Aedes Aegypti tersebut sudah berlangsung sejak bulan Januari 2022 lalu.

“Jumlah pasien DBD rata-rata 40-an untuk saat ini. Kalau standarnya itu adalah 49/100.000 jumlah penduduk. Kita punya sampai bulan Juni 2022 sekitar 273 dibagi jumlah penduduk Kota Tarakan, maka bisa dikatakan sudah tinggi dibandingkan dengan jumlah standar kasusnya,” terangnya, (03/08/2022)

Artinya, kata Devi, jumlah kasus DBD sekarang ini sekitar 112,44 persen. “Jika dilihat dari jumlah kasus yang dibagi jumlah penduduk kota tarakan, jadi ini sudah tinggi. Kemudian kita memiliki di awal tahun di bulan Februari 2 orang meninggal akibat DB. Apalagi standar nasional kurang dari 1 persen dari jumlah kasus yang meninggal. Kalau 2 dibandingkan 273, itu sudah tinggi,” ujarnya.

“Jadi dengan peningkatan kasus ini sudah menjadi perhatian semua, tergantung pada angka bebas jentik kita, angka bebas jentik kita kurang harusnya diatas 95 persen,” lanjut Devi.

Adapun masyarakat yang terpapar DBD di Kota Tarakan cenderung variatif alias berdampak di semua umur. Di mana tingkat kecenderungan paparan terbanyak berada di titik wilayah kerja Puskesmas Karang Rejo, dilanjutkan dengan titik wilayah kerja Puskesmas Juata.

Namun dr Devi memastikan bahwa stok obat-obatan di rumah sakit dijamin masih tersedia. Bahkan hingga abate masih bisa diakses secara gratis di tiap puskesmas yang tersebar di wilayah Tarakan khususnya.

“Obat-obatan di RS cukup, karena kan obat bergerak terus. Yang penting saat ini tidak ada keluhan kekurangan obat. Kita juga sudah antisipasi seperti melihat misalnya bulan April Mei baru naik, tapi ini bulan Januari naik terus, kurva datar, kami warning terus, dengan berkoordinasi dengan pihak puskesmas dan kelurahan untuk mengedukasi masyarakatnya,” katanya.

Selain fasillitasi obat bagi penderita maupun pencegahan DB, pihaknya berupaya hidupkan peran masyarakat melalui sosialisasi secara berkala hingga edukasi, bahkan melakukan Penyelidikan Epidemiologi (PE) jika diperlukan.

“Kalau dari teman-teman melakukan sosialisasi tentang dimana sarang nyamuk, melalui promosi kesehatan di puskesmas, kemudian juga disampaikan kalau anak panas kemudian sudah berobat masih belum turun panasnya, segera periksakan trombositnya, supaya memastikan bukan DBD. Selain itu dari rekan P2P kalau ada kasus akan melakukan Penyelidikan Epidemiologi (PE),” ujarnya.

Menurutnya, penanganan DBD dilakukan sesuai petunjuk teknis dengan melakukan PE, kemudian peran masyarakat juga diperlukan dalam hal menjaga kebersihan lingkungan.

“Jadi bukan cuma sekedar membersihkan saluran dan got, tapi penampungan harus dibersihkan. Yang kadang lolos seperti dispenser kalau kita periksa itu ada jentik-jentik nyamuk aides aegypti penyebab penularan. pemberian Abate secara rutin berkala juga bisa dilakukan untuk mematikan jentiknya atau pemeliharaan ikan untuk memakan jentiknya, dan itu malah lebih bagus, karna adanya genangan merupakan sumber penularan.” katanya.

Terpisah, Wali Kota Tarakan dr Khairul turut menanggapi peningkatan kasus DBD yang terjadi. Ia pun mengimbau seluruh lapisan masyarakat menerapkan 3 M (Menguras, Menutup, Menimbun).

“Memang efektifnya melakukan pencegahan kepada masyarakat, kita himbau melakukan 3M itu terus menerus walaupun tidak ada kasus ini. Apalagi kasus naik, jadi saya kira galakkan 3 M. Pertama Menguras, paling tidak tempat penampungan secara rutin seminggu sekali. Kedua Menutup, supaya nyamuk Aedes tidak masuk. Ketiga, menimbun barang bekas yang mempunyai potensi menyimpan air,” kata Khairul.

Print Friendly, PDF & Email
Program “Berobat Gratis” Layani 16 Ribu Lebih Warga Perbatasan
Gandeng LSP-KPK, BPSDM Kaltara Gelorakan Budaya Anti Korupsi Melalui Diklat
Optimalisasi Sektor UMKM Di Masa Pandemi
Postur Belanja di APBD-P Diusulkan Rp2,7 T
Kaltara Urutan 2 Provinsi Paling Bahagia di Indonesia
Share This Article
Facebook Email Print
Previous Article Niat Edarkan Sabu 2 Kilogram, Dua IRT Dibekuk Polisi
Next Article Masuk Rumah Warga, Ular Phiton Sepanjang 2 Meter Diamankan
7 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

UPNEWSUPNEWS
© 2020 - 2025 - UPNEWS.CO.ID
  • Pedoman Media Siber
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Terms of Condition
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?